Sabtu, 30 Januari 2016

BAGAIMANA MEMPERBAIKI AKHLAK YANG BURUK?


Assalamu'allaikum wr wb
Berikut ini enam kiat memperbaiki akhlak yang saya sarikan dari buku Mukhtashar Minhajul Qashidin karya Imam
Ibnu Qudamah

Kiat Pertama

Akhlak yang baik bisa didapatkan lewat pergaulan dengan orang-orang yang baik. Sebab tabiat itu bisa diibaratkan
pencuri, yang bisa mencuri kebaikan dan keburukan. Hal ini dikuatkan dengan sabda Rasulullah SAW., “Seseorang
itu berada pada agama teman karibnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang menjadi
temannya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad).

Kiat Kedua

Memperhatikan sebab-sebab yang mendatangkan keutamaan berpengaruh terhadap jiwa serta dalam merubah tabiatnya,
sebagaimana bermalas-malasan yang kemudian menjadi kebiasaan, hingga tidak ada kebaikan yang didapatkan.

Kiat Ketiga

Terkadang akhlak yang baik itu terwujud karena mencari, yang dilakukan dengan latihan, yaitu dengan membawa
jiwa kepada amal-amal yang bisa mendatangkan sifat yang dimaksudkan. Siapa yang ingin memiliki sifat dermawan
dan murah hati, maka dia harus memaksa dirinya untuk berkorban, agar dia terbiasa dengannya. Siapa yang ingin
memiliki sifat tawadhu, maka dia harus memaksa dirinya bersikap seperti orang yang tawadhu. Begitu pula halnya
dengan sifat-sifat terpuji lainnya. Kebiasaan untuk itu akan membawa pengaruh yang sangat besar, sebagaimana orang
yang ingin menjadi penulis, maka dia harus melatih dirinya dalam tulis-menulis. Jika ingin menjadi ahli fiqih,
harus rajin berbuat seperti yang diperbuat para ahli fiqih, hingga di dalam hatinya tertanam sifat orang yang
mendalami dan memahami ilmu. Tapi harus diingat, dia tidak bisa mendapatkan pengaruh dari latihan itu dalam tempo
sehari dua hari. Pengaruhnya akan tampak setelah sekian lama, sebagaimana tinggi badan yang tidak bisa diperoleh
hanya dengan latihan dalam tempo sehari dua hari. Tetapi latihan secara kontinyu akan membawa pengaruh yang besar.

Kiat Keempat

Yang sangat diperlukan orang yang melatih jiwanya sendiri adalah kekuatan hasrat. Selagi dia maju mundur, tentu
dia tidak akan berhasil. Selagi merasa hasratnya melemah, maka dia harus bersabar. Jika hasratnya semakin merosot,
maka dia harus menghukumnya agar tidak terulang, seperti kata seseorang kepada dirinya sendiri, “Mengapa engkau
mengatakan sesuatu yang tidak perlu? Akan kuhukum jiwamu dengan puasa.”

Kiat Kelima

Suatu penyakit yang membuat badan kesakitan, harus diobati dengan kebalikannya. Jika badan terasa panas, maka harus
diobati dengan yang dingin. Jika badan kedinginan harus diobati dengan yang panas. Bagitu akhlak-akhlak yang hina,
yang termasuk penyakit hati, harus diobati dengan kebalikannya. Penyakit kebodohan harus diobati dengan ilmu,
penyakit kikir harus diobati dengan kedermawanan, penyakit takabur harus diobati dengan tawadhu, penyakit rakus
harus diobati dengan menghentikan hal-hal yang menggugah nafsunya.
Yang perlu dicatat, seseorang harus bisa menahan diri merasakan pahitnya obat dan bersabar menahan diri dari
hal-hal yang diinginkannya, demi pemulihan badannya yang sedang sakit. Begitu pula kesabaran dalam berusaha
mengobari penyakit hati, yang justru inilah yang lebih penting. Sebab penyakit badan bisa lepas karena kematian,
tetapi penyakit hati bisa berlanjut dengan siksa yang abadi setelah kematian.

Kiat Keenam

Jalan pertengahan dalam akhlak merupakan tanda kesehatan jiwa. Beralih dari jalan pertengahan ini merupakan tanda
penyakit. Perumpamaan pengobatan jiwa itu seperti pengobatan badan. Sebagaimana badan yang tidak diciptakan dalam
keadaan sempurna, yang bisa dibuat sempurna dengan latihan dan makanan, begitu pula jiwa yang diciptakan dalam
keadaan kurang, namun bisa dibuat sempurna, yaitu dengan pensucian dan membimbing akhlak serta menyuapinya dengan
ilmu.

Wallohu 'alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar