Minggu, 31 Januari 2016

MENGINGAT ALLAH ADALAH PENANGKAL DAN PENAWAR GELISAH


Assalamu'allaikum wr wb


Hati adalah salah satu anugerah Allah swt yang tidak ternilai harganya bagi manusia. Dengan hati, manusia dapat merasakan suka, duka, bahagia, derita, kecewa, bangga, dan lain-lain. Dengan hati, manusia dapat meraba persaan orang lain. Dengan hati, manusia dapat membuat kehidupan ini penuh dengan kedamaian dan kasih sayang. Memang, hati adalah keajaiban karunia Allah yang senantiasa menuntun manusia. Namun, hati pun dapat terluka dan menderita, penyakit yang sangat membahayakan pemiliknya. Apa sajakah penyakit yang dapat menggerogoti hati? Lalu, bagaimana cara mengatasinya?
Allah swt telah melengkapi manusia dengan perangkat tubuh yang disebut dengan hati. Hati ini, pada dasarnya telah diciptakan bersih oleh Allah swt bersih dari berbagai macam penyakit. Namun, seiring dengan nafas kehidupan yang terus berhembus dan kian menua dalam rimba kehidupan, perlahan hati pun mulai terkontaminasi, terkotori, dan akhirnya menjadi tempat bersemayamnya berbagai macam penyakit, yang salah satunya adalah penyakit gelisah.
“Gelisah”, inilah salah satu jenis penyakit yang sering kali menyerang pertahanan hati. Gelisah merupakan penyakit hati yang banyak menyerang manusia, baik orang tua maupun para generasi muda.
Gelisah merupakan salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya. Satu penyakit hati ini saja mampu memberikan berbagai efek negatif dalam kehidupan seseorang. Karena gelisah, seseorang dapat terjerumus kepada pelarian yang tidak semestinya, seperti malas belajar dan sekolah, malas bekerja, minum minuman yang memabukkan dan menggunakan obat-obatan terlarang (miras), terjerumus pada seks bebas, terdampar dalam dunia diskotik yang penuh dengan maksiat, dan berbagai sarana pelarian lainnya yang mengandung unsur-unsur maksiat. Jadi, satu penyakit hati ini saja dapat menimbulkan berbagai macam efek negatif dalam kehidupan seseorang, minimal akan menurunkan dan atau menghilangkan prestasinya, dan maksimal akan melemparnya ke limbah maksiat dan dosa.
Gelisah, memang satu penyakit hati yang sangat berbahaya namun hampir tidak pernah dipertimbangkan oleh kebanyakan manusia. Karena, biasanya mereka sudah memiliki cara masing-masing untuk menghilangkan gelisah tersebut. Ada yang menghilangkannya dengan cara-cara yang sesuai atau tidak melanggar syariat, namun banyak pula yang menghilangkan penyakit tersebut dengan cara-cara yang menyimpang dari syariat. Akibatnya, gelisah mereka hilang, dosa pun menerkam. Allah swt telah menciptakan dan menganugerahkan hati bagi manusia sebagai salah satu perangkat kehidupan yang sangat vital, yang akan membantu melihat dan mendengar seruan Allah swt, yang akan membantunya dapat merasakan apa yang tengah dirasakan oleh orang lain. Namun, kita juga mengetahui bahwa segala sesuatu itu ada, tiada, terjadi, dan tidak terjadi hanya karena Allah swt. Dari sana, kita juga tahu bahwa Allah swt-lah yang telah menciptakan penyakit, dan Allah swt-lah yang memiliki penawarnya. Dan satu-satunya penawar yang paling efektif dan tidak bertentangan dengan syariat Islam untuk menangkal atau mengobati penyakit gelisah adalah dengan cara selalu dzikir mengingat Allah swt, sebagaimana telah dikatakan dengan jelas oleh Allah swt di dalam Al Quran, yang artinya:
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du : 28)
Dalam ayat di atas, Allah swt telah dengan tegas dan jelas mengatakan bahwa "hanya dengan mengingat Allah swt-lah maka hati akan menjadi tenteram”. Maka tidak ada lagi penawar dan penangkal yang lebih baik dan lebih barakah lagi selain dengan cara mengingat Allah swt. Lalu, bagaimanakah yang dimaksud dengan mengingat Allah swt tersebut?
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengingat Allah swt, misalnya berdzikir, sholat, mempelajari dan membaca Al Quran serta mengamalkannya, senantiasa bersyukur kepada Allah swt, meyakini pertolongan Allah swt, & perbanyak merenungi tanda-tanda kebesaran Allah swt yang terdapat di alam semesta maupun fakta sejarah.
Dzikrullah (dzikir kepada Allah swt)
Dzikir kepada Allah swt merupakan salah satu cara yang sangat ampuh agar selalu mengingatkan kita kepada Allah swt. Kenapa demikian? Karena, dzikir dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun (kecuali ketika tengah berada di dlm toilet atau sedang buang air), serta oleh siapapun (tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, sedang berhadats maupun dalam keadaan suci).
Dzikir juga merupakan salah satu amalan yang sangat mudah & ringan untuk dikerjakan, dapat dilakukan di dalam hati maupun disuarakan dengan lisan. Dzikir ini pun tidak diikuti aturan mengenai batas minimal atau maksimal untuk melakukannya, intinya adalah niat dan keikhlasan kita.
Semoga Allah swt selalu melimpahkan rahmat-Nya untuk kita semua dan semoga bibir & hati ini selalu ikhlas bersholawat dan berdzikir menyebut nama-Mu.. Aamiin..

Sabtu, 30 Januari 2016

AGAR IBADAH DITERIMA

Assalamu'allaikum wr wb
Sahabatku .. Yang dirahamati Allah, sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa
tujuan diciptakan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah dan
mentauhidkan-Nya. Memang benar diterima dan tidaknya Ibadah kita, itu urusan
Allah SWT semata, tapi kita harus semakin meningkatkan kualitas Ibadah kita
untuk mencapai Mardhotillah.

Namun perlu diketahui, agar ibadah kita diterima, maka harus terpenuhi syarat-
syaratnya. Jangan sampai seseorang telah melakukan ibadah dengan harta dan tenaga
yang besar, namun ternyata hal tersebut sia-sia karena tidak diterima disisi
Allah Ta’ala, bahkan malah menjerumuskannya ke dalam neraka.

Saya akan jelaskan sedikit mengenai syarat diterimanya ibadah.
Apa yang dimaksud dengan ibadah?

Sebagian kaum muslimin mendefinisikan makna ibadah sebatas hanya yang disebutkan
dalam rukun islam, seperti sholat, zakat, puasa dan haji. Namun pemahaman tersebut
kurang tepat. Ibadah memiliki pengertian yang lebih luas. Definisi yang dinilai
paling baik adalah yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau
mendefinisikan ibadah dengan “Suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang
dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang
tersembunyi (batin) maupun yang nampak (lahir)”.

Sehingga termasuk ke dalam ibadah adalah perkataan jujur, menunaikan amanah,
berbakti kepada orang tua, menyambung silaturahmi, dan selainnya yang memiliki
dalil bahwa amalan tersebut dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala. (Al Ubudiyah
oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).

Syarat diterimanya ibadah oleh Allah Ta’ala sebagai pembuat syari’at telah
menetapkan jenis-jenis ibadah yang dilakukan hamba untuk mendekatkan diri
kepada-Nya. Namun tidak semua ibadah yang dilakukan seorang hamba akan
diterima oleh Allah. Bahkan sebagian dari hamba tersebut amalannya sia-sia
di sisi Allah. Hal itu terjadi karena hamba tersebut lalai untuk memenuhi
yarat diterimanya ibadah, yaitu ikhlas, ittiba’ (mengikuti petunjuk rasulullah),
dan beragama Islam.

Allah Ta’ala berfirman, “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka
hendaklah ia mengerjakan amal yang sholeh dan janganlah ia mempersekutukan
seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” (QS Al Kahfi: 110)

Syaikh As Sa’di menjelaskan yang dimaksud dengan amal sholeh pada ayat ini adalah
yang sesuai dengan syariat Allah (sesuai dengan petunjuk Rosulullah) baik itu
amalan yang bersifat wajib atau sunnah. Dan tidak boleh riya’ dalam beramal akan
tetapi harus ikhlas mengharap wajah Allah semata. Maka ayat ini mengumpulkan dua
syarat diterimanya ibadah, yaitu ikhlas dan ittiba’.

Rasulullah juga bersabda. “Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amalan, kecuali
dengan ikhlas dan mengharap wajah-Nya” (HR. Al-Nasaa’I, dinilai shahih oleh Al
Albani dalam Shahih Al Jaami’, no. 1856).

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut
tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

Dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa agar amal seseorang diterima, maka harus
terkumpul antara ikhlas dan ittiba’. Jika ikhlas saja namun menyelisihi petunjuk
rasul maka amal tersebut tidak diterima, begitu pula jika mengikuti petunjuk rasul
saja namun riya’ (beribadah karena ingin dipuji) juga tidak diterima.

Syarat yang ketiga agar amal ibadah seseorang diterima disisi Allah adalah harus
beragama islam, Sedangkan amalan orang kafir tidak diterima,

Allah berfirman:
“Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu
yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak
dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia).
Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh” (QS Ibrahim : 18)

Ketiga syarat inilah yang harus dipenuhi oleh seseorang agar amal ibadahnya di
terima. Jika hilang salah satunya maka tidak akan diterima oleh Allah ta’ala.

Bukan sekedar niat baik
Sebagian kaum muslimin memiliki kaidah yang salah dalam beribadah. Mereka
berkeyakinan “yang penting niatnya baik”.

Hal ini tidaklah benar, karena seseorang dalam beramal harus berdasarkan ilmu.
Ia harus mengetahui perkara apa yang termasuk ibadah dan bukan ibadah. Islam telah
mengajarkan semua perkara yang dapat mendekatkan diri kepada surga dan menjauhkan
dari neraka, yang telah dijelaskan dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada satu amalan pun yang mendekatkan kepada syurga kecuali telah aku
perintahkan kepada kalian, dan tidak pula satu amalan yang mendekatkan kepada
neraka kecuali aku peringatkan kalian darinya” (HR Al Hakim, dinilai shahih oleh
Al Albani dalam Silsilah Ahadits ash-Shahihah no. 2607)

Ajaran Islam telah sempurna dan syari’atnya terus berlaku hingga hari kiamat nanti.
Maka barangsiapa berpegang teguh dengan keduanya (Al Qur’an dan As Sunnah-red)
disertai dengan pemahaman yang benar, niscaya ia tidak akan tersesat selamanya.

Wallohu'alam bishowab.

BAGAIMANA MEMPERBAIKI AKHLAK YANG BURUK?


Assalamu'allaikum wr wb
Berikut ini enam kiat memperbaiki akhlak yang saya sarikan dari buku Mukhtashar Minhajul Qashidin karya Imam
Ibnu Qudamah

Kiat Pertama

Akhlak yang baik bisa didapatkan lewat pergaulan dengan orang-orang yang baik. Sebab tabiat itu bisa diibaratkan
pencuri, yang bisa mencuri kebaikan dan keburukan. Hal ini dikuatkan dengan sabda Rasulullah SAW., “Seseorang
itu berada pada agama teman karibnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang menjadi
temannya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad).

Kiat Kedua

Memperhatikan sebab-sebab yang mendatangkan keutamaan berpengaruh terhadap jiwa serta dalam merubah tabiatnya,
sebagaimana bermalas-malasan yang kemudian menjadi kebiasaan, hingga tidak ada kebaikan yang didapatkan.

Kiat Ketiga

Terkadang akhlak yang baik itu terwujud karena mencari, yang dilakukan dengan latihan, yaitu dengan membawa
jiwa kepada amal-amal yang bisa mendatangkan sifat yang dimaksudkan. Siapa yang ingin memiliki sifat dermawan
dan murah hati, maka dia harus memaksa dirinya untuk berkorban, agar dia terbiasa dengannya. Siapa yang ingin
memiliki sifat tawadhu, maka dia harus memaksa dirinya bersikap seperti orang yang tawadhu. Begitu pula halnya
dengan sifat-sifat terpuji lainnya. Kebiasaan untuk itu akan membawa pengaruh yang sangat besar, sebagaimana orang
yang ingin menjadi penulis, maka dia harus melatih dirinya dalam tulis-menulis. Jika ingin menjadi ahli fiqih,
harus rajin berbuat seperti yang diperbuat para ahli fiqih, hingga di dalam hatinya tertanam sifat orang yang
mendalami dan memahami ilmu. Tapi harus diingat, dia tidak bisa mendapatkan pengaruh dari latihan itu dalam tempo
sehari dua hari. Pengaruhnya akan tampak setelah sekian lama, sebagaimana tinggi badan yang tidak bisa diperoleh
hanya dengan latihan dalam tempo sehari dua hari. Tetapi latihan secara kontinyu akan membawa pengaruh yang besar.

Kiat Keempat

Yang sangat diperlukan orang yang melatih jiwanya sendiri adalah kekuatan hasrat. Selagi dia maju mundur, tentu
dia tidak akan berhasil. Selagi merasa hasratnya melemah, maka dia harus bersabar. Jika hasratnya semakin merosot,
maka dia harus menghukumnya agar tidak terulang, seperti kata seseorang kepada dirinya sendiri, “Mengapa engkau
mengatakan sesuatu yang tidak perlu? Akan kuhukum jiwamu dengan puasa.”

Kiat Kelima

Suatu penyakit yang membuat badan kesakitan, harus diobati dengan kebalikannya. Jika badan terasa panas, maka harus
diobati dengan yang dingin. Jika badan kedinginan harus diobati dengan yang panas. Bagitu akhlak-akhlak yang hina,
yang termasuk penyakit hati, harus diobati dengan kebalikannya. Penyakit kebodohan harus diobati dengan ilmu,
penyakit kikir harus diobati dengan kedermawanan, penyakit takabur harus diobati dengan tawadhu, penyakit rakus
harus diobati dengan menghentikan hal-hal yang menggugah nafsunya.
Yang perlu dicatat, seseorang harus bisa menahan diri merasakan pahitnya obat dan bersabar menahan diri dari
hal-hal yang diinginkannya, demi pemulihan badannya yang sedang sakit. Begitu pula kesabaran dalam berusaha
mengobari penyakit hati, yang justru inilah yang lebih penting. Sebab penyakit badan bisa lepas karena kematian,
tetapi penyakit hati bisa berlanjut dengan siksa yang abadi setelah kematian.

Kiat Keenam

Jalan pertengahan dalam akhlak merupakan tanda kesehatan jiwa. Beralih dari jalan pertengahan ini merupakan tanda
penyakit. Perumpamaan pengobatan jiwa itu seperti pengobatan badan. Sebagaimana badan yang tidak diciptakan dalam
keadaan sempurna, yang bisa dibuat sempurna dengan latihan dan makanan, begitu pula jiwa yang diciptakan dalam
keadaan kurang, namun bisa dibuat sempurna, yaitu dengan pensucian dan membimbing akhlak serta menyuapinya dengan
ilmu.

Wallohu 'alam.